Friday, April 4, 2008

Topik: Yuk Berjuang!

Say It Out Loud April 2008

Mayoritas lesbian di Indonesia bukanlah anggota LSM maupun pejuang gerakan LGBT. Banyak di antara kita adalah pekerja biasa, para perempuan yang tenggelam di dunianya sendiri-sendiri. Tapi, bukankah banyak hal yang dapat kita lakukan untuk berjuang? Misalnya, Mother Teresa dari Calcutta berjuang dengan kasih sayang, Mahatma Gandhi berjuang dengan ajaran Ahimsa, Rabindranath Tagore berjuang melalui tulisannya. Nah, sebagai lesbian, apa sih yang telah kita lakukan untuk komunitas LGBT(secara khusus) atau masyarakat (secara umum)? Tindakan paling kecil pun sangat berarti kok. Seperti kata John F. Kennedy "ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country".

Ayo, ayo, bagi ceritanya dan berikan inspirasi buat teman-teman lesbian semua!

Deadline: 30 April 2008


Perjuangan buat saya adalah dengan menjadi sahabat yang terbuka dengan teman-teman saya. Dalam banyak hal saya selalu jujur kepada sahabat-sahabat saya, kecuali untuk masalah yang satu itu. Saya tak pernah coming out kepada mereka. Tapi jika seandainya saya ketahuan lesbian, saya berharap teman-teman saya tidak menilai saya semata-mata sebagai lesbian, tapi karena melihat saya sebagai orang yang sama yang telah menjadi sahabat mereka selama ini.
(Dark Chocolate)

Aku berjuang dengan menjadi volunteer di LSM yang mengurusi isu perempuan dan anak-anak. Aku sendiri tidak coming out, tapi kupikir itu tidak penting karena ada masalah yang lebih besar untuk diperhatikan oleh kita semua sebagai perempuan.
(Nana)


Saya berjuang dengan mengajukan diri menjadi salah satu penulis di blog Sepoci Kopi. Sebagai perempuan yang sudah coming out kepada orangtua dan diterima dengan tulus oleh keluarga, sebenarnya saya udah beberapa kali diajak untuk menjadi contoh "cerita sukses lesbian yang coming out" oleh beberapa teman aktivis. Tapi saya menolak karena saya nggak mampu memberikan pencerahan dengan berbicara. Bisa-bisanya nanti malah saya salah ngomong. Saya pikir saya senang menulis, walaupun hasilnya nggak sehebat penulis profesional. Maklum, saya kan penulis pemula. Dengan bantuan teman-teman redaksi di Sepoci Kopi, khususnya Lakhsmi, tulisan saya diedit secara "kejam". Tapi saya senang, karena hasil tangan dingin dan komentar jujur Lakhsmi membuat saya belajar menjadi penulis yang lebih baik lagi.

Semoga sharing saya di blog Sepoci Kopi menginspirasi teman-teman untuk menemukan jawabannya di dalam hati masing-masing.
(Fredric)