Friday, August 6, 2010

Topik: Happy Lesbian Wedding!

Say It Out Loud Agustus 2010

Mari mengkhayal. Jangan terlalu serius dong, kita akan berimajinasi. Kalau... nih, kalau ya... kalau kita para lesbian bisa menikah di negara ini, rencana apa yang bakal kamu lakukan? Kebayang nggak pesta pernikahan yang indah yang biasanya dijalani oleh teman-teman straight kita? Ayo, ayo, saatnya berimajinasi. Saatnya berbagi rencana, biarpun dalam khayalan. Kenapa tidak? Ceritakan tentang bentuk pernikahan yang akan kamu adakan apabila menikah. Tempatnya, pakaiannya, undangannya... Kita berbagi yuk.

Deadline: 31 Agustus 2010

Kirimkan kepada: redaksi@sepocikopi.com

Aku ingin resepsi pernikahanku dg partner terkesan unik. Dengan dandanan ala visual Kei-nya jepang dan partnerku mengenakan gaun ala gothic Lolita. Of course, dengan nuansa serba hitam. Tamu undangan pun memakai dresscode visual gothic. Wah! Pasti menyenangkan dan unik. Oh ya, konsep pestanya kami ingin gelar di gedung yang bergaya klasik ala Eropa. Dengan jamuan serba merah. Kalian bisa menebaknya, nggak? Aku saja bingung. Hahaha. Tapi itulah impianku saat resepsi pernikahanku nanti.
(Tenshisama)

Aku fans fanatik Cosplay biarpun bukan Cosplayer, aku pengen pakai tema Cosplay. Mungkin aku bakal pilih tema dark wedding seperti yang dipakai tim Endiru beberapa tahun yang lalu. Dari awal ngeliat foto itu, aku pengen sekali pakai kostumnya Orochi. Kemeja putih dengan dasi hitam, rompi hitam, dan jubah hitam dengan garis emas. Keren sekali. Pasanganku bakal pakai gaun putih yang dipakai Pinky. Gaunnya keren, simple tapi oke. Lokasinya beach party secara aku lahir dan besar di kawasan pantai. Tamunya adalah keluarga dan temen dekat, juga special guest and performance from Endiru team. Aku mengharapkan mereka mau nge-dance deh. Hmmm... kira-kira mereka mau gak ya pinjamkan kostum itu? (^_^)
(Naga Ankai)

Aku berimajinasi akan mengenakan celana panjang ketat warna hitam dengan blus tanpa lengan putih, jas hitam sampai pinggang, dasi kupu-kupu warna pink, sarung tangan putih, dan rambut digerai agar penampilan tetap feminin, bra dan thongs putih, stocking putih, sepatu hak hitam. Pasanganku tetap mengenakan gaun pengantin putih, sarung tangan transparan sesiku, no bra, thongs putih, stocking putih, sepatu hak putih. Acaranya seperti pernikahan biasa, di mana aku mencium bibir pasanganku setelah membuka kerudungnya. Acara potong kue, suap-suapan, minum champagne, kemudian bergandengan tangan masuk kamar pengantin untuk making love sampai pagi...
(Venita)

Legal ataupun tidak, saat aku menemukan partner, aku akan menikahinya. Tentu saat itu aku akan merundingkan detailnya dengan partner, tapi saat ini beginilah yang terbayang. Kami akan menyatakan komitmen di hadapan Tuhan dan bertukar cincin di sebuah gereja kecil. Hanya kami berdua pun cukup bagiku, tapi kalau ada pastor yang mau memberkati akan lebih sempurna. Resepsi sederhana akan diadakan sesudahnya, entah hari itu atau hari lain, tempatnya kemungkinan besar di rumah kami sendiri, namun tentu didekorasi cantik. Undangannya hanya sekitar 20-an orang, namun semuanya orang yang paling kami sayangi. Kami berdua mengenakan busana putih. Partner mungkin mengenakan gaun, aku mungkin mengenakan blazer atau rompi.

Acara pun cukup sederhana. Diawali dengan kata sambutan dari kami dan beberapa ucapan atau testimonial dari tamu, kemudian langsung ke acara makan bersama dan hiburan. Acara ditutup dengan pembagian souvenir dan ucapan terima kasih dari kami sendiri. Cukup sederhana, memang. Bagiku sekarang, resepsi atau upacara pernikahan tidak lebih dari sebuah proklamasi. Proklamasi komitmen kami di hadapan Tuhan, di hadapan satu sama lain, dan di hadapan keluarga dan teman-teman (syukur-syukur bisa di hadapan negara juga). Penting memang, tapi tidak sepenting hari-hari sesudahnya, saat kami benar-benar menjalani komitmen pernikahan itu.
(Ryou)

No comments: