Saturday, August 4, 2007

Say it Out Loud Agustus 2007


Topik: Kencan Tak Terlupakan

Wow! Berbagai hal bisa terjadi dalam acara kencan, ada yang langsung jadian sehabis kencan, ada yang merasa lebih cocok jadi teman, atau malah ada yang jadi ill-feel. Yuk, bagi ceritamu tentang Kencan Tak Terlupakan. Bisa cerita-cerita romantis, kocak, atau bahkan memalukan. Dan bisa saja cerita kencanmu bisa jadi inspirasi buat teman-teman lain.




Deadline: 31 Agustus 2007

Terima kasih pada Mae atas idenya.

Entah ini kencan atau tidak, tapi yang pasti sangat tidak terlupakan.

Kejadiannya sewaktu aku masih mengontrak kamar di daerah belakang tempatku bekerja. Setelah beberapa hari tidak berjumpa karena kembali ke keluarga masing-masing, maka malam itu kekasih akan menginap di tempatku. Wuiiih, sudah terbayang malam panjang yang akan kami miliki.

Tiba di kamar, tanpa membuang waktu, kami pun segera membasuh diri dan bersiap-siap menikmati malam kami. Tapi baru kami hendak membaringkan badan, tiba-tiba pintu kamar diketuk. Ketika kubuka, rupanya sahabat kami yang tinggal di pintu sebelah. Dia bercerita bahwa ia baru saja mendapat mimpi buruk setelah sore tadi tanpa sengaja tangannya memindahkan saluran TV ke sebuah tayangan mistis. Dengan wajah yang masih pucat, ia memohon untuk diperbolehkan tidur di kamar kami malam ini saja.

Well, ia memang tidak tahu hubunganku sesungguhnya dengan kekasih. Ia pikir kamu hanya sepasang sahabat dekat yang sering saling menginap. Akhirnya malam itu tidurlah kami bertiga. Repotnya lagi, ia memilih tidur di tengah-tengah antara aku dan kekasih, masih dengan alasan akibat sang tayangan mistis tadi.

Memang malam itu menjadi malam panjang bagi kami berdua, tapi bukan karena "kesibukan" kami, melainkan karena tidak bisa tidur membayangkan apa yang mestinya telah kami lakukan. Sampai saat ini kami berdua masih terkikik-kikik mengingat kejadian itu.
(Mae)

Langit gelap membiru, mentari baru saja tenggelam, si dia baru saja menjemputku. Kami meninggalkan bandara Soekarno Hatta. Aku bertanya ini dan itu, sedang berada di mana saat kendaraan yang dia kemudikan meluncur… “Oh ada diiii sebentar…” Dia celingak-celinguk mencari nama lokasi.
“Wah kalau baca aku juga tau…” Kami berdua tertawa lepas.

Semua masih terasa kaku. Saat pertama kali melihatnya yang terpikir… biasa aja anaknya, tinggi, hidungnya bagus, keliatan orang rumahan, anak mami. Jangan-jangan nyeberang jalan juga masih dipegangi ibunya.

“ Kamu kedinginan?” katanya tiba-tiba
“Ngga,” jawabku kaku
Aku pikir itu undangan agar dia bisa menyentuh jemari, aku sodorkan saja… Piuhhh telapak tangannya yang lembut menggenggam dengan hangat. Aku diam saja sambil menikmati aliran listrik. Masih bingung harus bagaimana.
“Bisa nyari hotel ngga?” tanyaku.
“Hah, hotel? Buat apa, kan nginapnya di rumah…” Ia kaget.
“Ngga mungkin kulakukan di dekat-dekat sini deh pasti kotor,” kataku lagi.
“Maksudnya?” Dia melotot bengong.
“ Aku pengen pipis dan ngga mau di SPBU atau tempat umum lain, ngga bersih…”
“Ohhhhhhh…”

(kekekeke pasti dia ngeres mikir mau kencan di hotel, padahal super kebelet…)

Dia berhenti di parkiran, aku bergegas turun, usai mencuci kedua tangan aku masuk ke mobil… di sana di bawah sinar rembulan, di bawah pohon palem halaman hotel kami berciuman bibir lama sekali…
(Ade Rain )


Kalau sekarang ada yang bilang don't shit in your rice bowl saya akan mengamini. Amiiin, setujuuu. Peristiwa ini terjadi lima tahun yang lalu, tapi rasanya baru kemarin. Saat itu saya masih seorang karyawan baru di tim marketing yang dipimpin oleh manajer yang sangat workoholic. Saya nggak pernah menduga bahwa saya jatuh hati dengan salah satu teman di tim. Ternyata cinta saya nggak bertepuk sebelah tangan. Hebat bukan? Nggak perlu jauh-jauh mencari di mana-mana, ternyata ada lesbian di tim kerja saya. Namanya Mayla.
Kencan pertama kami di sebuah restoran dekat dengan kantor saya. Maklum, saya orangnya serba praktis, lagian jam kerja kami yang panjang sungguh melelahkan jika kami mencari-cari restoran lagi. Langsung saja kami menuju restoran itu setelah jam kantor.
Barusan memilih menu dan menikmati obrolan mesra kami, tahu-tahu terdengar suara yang sangat familiar. "Wah, di sini juga ya? Sekalian gabung aja. Kebetulan saya mau diskusi tentang berita baru yang harus di-follow up." Saya menoleh kaget. Ya ampuuuun, bos saya yang kebetulan memimpin tim kami berdua tampak berdiri bersama asisten manajer dan seorang teman kerja lainnya. Terpaksa dengan wajah ditekuk seratus, kami harus rela pindah ke meja yang lebih luas. Kencan itu berakhir dengan gagal total. Tidak ada aura romantis sama sekali. Disatroni bos, diajak diskusi, malah ditanya ini itu tentang urusan pekerjaan membuyarkan efek kemesraan kami. Hubunganku dengan Mayla memang nggak pernah berakhir sebagai pasangan kekasih, tapi persahabatan kami sangat erat sampai saat ini.
(Black Rose)

Ini cerita kencan dengan salah satu mantanku. Waktu itu doi masih kuliah di daerah Depok. Suatu ketika doi mengajakku ke kampusnya dengan naik kereta api jurusan Kota-Depok karena aku tidak pernah naik kereta api. Ciee, maksudnya biar romantis gitu.... Sehabis urusan kuliah selesai, dia mengajakku pulang naik kereta tapi tidak langsung pulang ke Kota, tapi berhenti di daerah Cikini, ke plasa entah apa aku lupa namanya, lanjut berjalan-jalan di TIM dan makan siang di sana. Dan kami baru pulang menjelang sore. Pulangnya kami naik Metromini ke arah Senen, yang dilanjutkan naik mikrolet jurusan Kota dan berpisah ketika aku harus turun lebih dulu, sementara mikrolet yang membawa si mantan terus sampai terminal. Kencan itu kami beri judul, Cinta Bersemi di Angkutan Umum.... :)
(Alex)

Saya pernah berkencan dengan cewek yang berakhir dengan tragis. Bukan karena kami nggak bisa “jadian” tapi karena aku harus merogoh kocek gila-gilaan. Jalanan rumahnya yang gelap gulita membuat mobilku ditabrak bajaj sampai penyok habis! Anehnya, bajajnya sendiri nggak apa-apa, tapi mobilku penuh baret dan bodinya melesak. Itu bajaj atau panser, entahlah aku nggak tahu. Untung tidak terjadi keributan yang berlebihan. Akhirnya selama dua minggu selanjutnya, aku harus ke kantor dengan taksi dan busway karena mobilku berada di bengkel untuk diperbaiki. Benar-benar kencan termahal yang pernah kujalani! Sialnya, aku dan dia nggak berpacaran karena chemistry kami nggak cocok satu sama lain.
(Dea)


Kenalannya memang di dunia maya. Setelah beberapa kali email, tukeran nomor telepon, SMS, dan akhirnya ngobrol di telepon, kami memutuskan untuk copy darat. Pertemuan yang berlangsung lumayan berkesan. Aku menyiapkan diri sebaik-baiknya. Beli celana baru, kemeja baru. Sambil shopping tiba-tiba tertarik dengan dompet, akhirnya beli dompet baru juga.
Pertemuan itu terjadi di restoran. Kami saling menikmati makan malam kami. Setelah makan malam berakhir, kupanggil pelayan dengan penuh percaya diri meminta bon. Bon pun tiba dan aku merogoh celana. Ya ampun, di mana dompetku? Ternyata karena dompet baru, nggak sengaja ketinggalan kantung celana yang lama. Dengan terbata-bata kujelaskan keadaanku dengan si dia. Wajah si dia terlihat kesal seketika. Dengan setengah keberatan, dia merogoh tasnya. Dengan percaya diri dia menyodorkan kartu kredit kepada pelayan yang disambut dengan “Maaf Bu, mesin kartu kreditnya lagi rusak. Nggak bisa on line. Kami hanya menerima cash.” Wajahnya perlahan-lahan memucat karena dia tidak memiliki uang tunai sebesar jumlah yang tertera di bon.
Si dia memutuskan berjalan kaki menyeberang jalan, untuk datang ke ATM untuk mengambil uang tunai. Sebenarnya aku keberatan karena takut apa yang terjadi seandainya dia memutuskan kabur dari restoran. Bisa-bisa aku harus mencuci piring dan menggosok kakus. Tapi akhirnya aku tidak dapat menolak karena itu adalah satu-satunya jalan keluar. Dengan terpaksa kuizinkan dia pergi meninggalkan restoran. Untung saja si dia tidak perlu lama-lama meninggalkanku. Dia tiba dengan wajah sumringah dan senyum lebar. Aku menghela napas lega. Sekarang kami telah bersama-sama lebih dari 2 tahun, dan kenangan akan kencan itu benar-benar tidak terlupakan.
(Neill)

Saturday, July 7, 2007

Say it Out Loud Juli 2007


Topik: LDR (Long Distance Relationship)
Ternyata setelah ngobrol dengan banyak teman lesbian, banyak juga ya teman-teman yang menjalin hubungan jarak jauh. Ayo dong, bagi ceritamu tentang LDR bagi yang pernah menjalaninya atau yang sedang menjalaninya sekarang. Semoga bisa jadi cerita yang menguatkan teman-teman lain yang menjalaninya.



Dead line: 31 Juli 2007

Mulai bulan ini tanggapan atas topik per bulan akan langsung kami upload: (Thanks to Lisa yang tinggal di kota yang indah atas ide topiknya)

Berikut ini tanggapan topik LDR:

LDR buatku berarti:
1. Kekasihku tolong SMS-nya sering-sering.
2. Sayang, cari tempat nyaman dunk buat mesra-mesraan di telepon.
3. Suara kekasih harus merdu dan syahdu.
4. Sayang jangan bobo dulu, tunggu saya pulang kerja.
5. Double ekstra kalau bisa triple ekstra mencintai kekasih, kalau liat yang bagus di jalan cepat-cepat nelepon kekasih, SMS dia bilang ada cewe cakep, hehehe paling buat dia ngambek.
6. Kesabaran yang supertinggi, yang ini beneran mutlak!
7. Budget biaya kemesraan yang terperinci, hitung semua perencanaan, dan realisasikan dengan sangat disiplin.
8. Biaya komunikasi terpaksa menjadi prioritas tinggi-karena kebutuhan mendengarkan ini tidak dibatasi waktu, semakin sering berkomunikasi semakin dirasakan dia selalu ada di dekat kita.
9. Bersyukur kalau memiliki rasa kangen, karena itu jadi bukti kalau kita masih membutuhkan dia, nikmati dan ucapkan terima kasih dengan Tuhan dalam doa khusus sehingga hati merasa lega.
10. Beri kekasih rasa aman yang luar biasa, yang ini pentiiiiiing banget.
11. Setia-setia setia setia setia setia, MUTLAK!
12. Kalau ada masalah jangan biarkan berlarut-larut, bicaralah dan telpon kekasih dengan rasa cinta.
13. Kalau marah cepat reda, jangan terlalu lama, karena akan membuang-buang tenaga, jangan mengeluarkan makian yang menyakitkan, ingat justru terhadap orang yang kita cinta, kita tidak pantas mengeluarkan kata-kata kotor dan makian. Jangan pernah lakukan yang satu ini!
14. Jangan pernah mengisi waktu luang dengan chatting berlebihan dengan kenalan baru, mendingan telepon kekasih nyanyi lagu syahdu di kupingnya biar dia makin cinta.
15. Jangan lupa di dalam rezeki kita ada milik orang lain, rajin-rajinlah menderma, niatkan sedekah yang tak seberapa kita berikan kepada duafa kebaikannya untuk orangtua kekasih, niatkan buat anak-anak kita, niatkan buat sahabat-sahabat kita yang sedang sakit atau sedang kesusahan… mudah-mudahan hubungan itu akan langgeng bertahun-tahun.
(Al- 2007 *LDR berarti Mencintai kekasihku dengan cara yang luar biasa)

LDR? Sandal putus, sepatu butut, panci item, periuk bocor, ban pecah, udel bodong, jidat nongol, beha putus, celana robek, tas rombeng, ketek acem, bibir monyong, kambing nungging, bebek bengong, sapi ngangkang, kebo bau, artinya apa??? Kangen, sedih, capek, nangis bombay! Ini rasa negatifnya bo!…payah!
LDR? Rahmat, rezeki, berkat, sabar, cinta yang bertumpuk, kangen yang berlimpah, sayang yang tumpah ruah, perhatian yang lebih, hasrat yang besar, desire yang membara. LDR membuatku semakin sadar betapa aku sangat membutuhkan kekasih, dan kerap mensyukuri setiap waktu yang kami habiskan bersama-sama.
Rain *( auoooooooooooooooooooooooooo tolonggggggggggggg kangennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn) Piuh, abis teriak rasanya lega!

Setelah jadian dan mengungkapkan perasaan dengan cara yang tidak romantis, mulailah cinta AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) terjalin antara aku dan partner sepanjang rel kereta api Argomuria. Di zaman itu, tarif telepon GSM/CDMA/PSTN masih mencekik kantong. Tapi justru merangsang kreativitas, segala macam cara dicoba, mulai dari membuat tabel perbandingan tarif layanan selular dan PSTN, memakai sim card dari kota partner hingga sesekali bisa memanfaatkan fasilitas telepon gratis dari kantor, begadang tengah malam sambil terkantuk-kantuk menunggu tarif hemat, dan terakhir dengan berat hati membatasi waktu telepon. Sudah terbukti, komunikasi via telepon buat cinta AKAP adalah kebutuhan, bahkan jadi candu yang semakin hari menagih dosis lebih. Selain itu, minimal sekali dalam setiap bulan mesti ketemu juga membuatku semakin lihai mengincar tiket murah pesawat terbang.
Perlahan, aku dan partner mulai mempertimbangkan, menghitung kemungkinan dan mengukur kemampuan masing-masing untuk lebih serius menata kehidupan. Semua dijalani secara bertahap. Dimulai dari bertemu saat weekend, mengambil cuti untuk bersama selama beberapa hari hingga cuti panjang hampir setengah bulan.
Akhirnya aku dan partner yakin bahwa hidup bersama akan membuat kami lebih utuh, saling mengisi dan saling melengkapi. Setelah 8 bulan LDR, kami memutuskan untuk hidup bersama demi kehidupan yang lebih baik dan positif. Sebuah rumah mungil di komplek perumahan sederhana di sudut Jakarta menjadi naungan dan tempat kembali yang nyaman buat kami. Pengalaman LDR membuat kami semakin menghargai setiap kebersamaan yang kami miliki.
(Bening)

Berawal dari curhat yang kutuangkan dalam forum L, aku mendapat tanggapan simpatik dari kekasih. Dalam waktu relatif singkat, kami saling menyatakan perasaan. Meski hanya melalui untaian kata dan merdunya suara, kebahagiaan yang menyelimuti jiwa kami terasa sangat nyata. Sampai suatu ketika, selembar tagihan telepon membuat aku mengucek-ucek mata. Hiks! Bagai dijerat tambang raksasa, napasku tersedak tiba-tiba. Fiuhh! dalam waktu sebulan, kebersamaan kami telah menguras simpananku.

Selanjutnya kekerapan komunikasi terpaksa harus dikurangi. Kami menahan diri tidak berkomunikasi langsung, hanya mengandalkan SMS.

Tiga hari berjalan normal. Dia masih bisa terima dengan segala perubahan kebiasaan kami. Hari keempat, kelembutan yang biasa menyertai rangkaian kalimat indahnya mulai mengudara. Sedikit saja aku salah menggunakan kata, emosinya langsung menyala. Malam kelima menjadi puncak ketiadaan. Sebaris kata yang dilayangkannya telah sanggup membuat hatiku terluka. Saat itu aku pasrah, aku menyerah.

Dua hari aku bertahan tak memberi kabar, dua hari dia terus menyerang dengan barisan penyesalan.

Dalam diam kucoba telusuri setiap mili luka di hati. Tak ada luka baru di sana, hanya ada ruang hampa yang masih dipenuhi wanginya bunga. Tersentak aku tiba-tiba! Kunyalakan kembali ponsel, kutulis sebaris ungkapan kekosongan dan undangan agar dia bersedia mengisi kembali ruang hampa tersebut. Dengan berlandaskan kepercayaan dan kesabaran, kami sepakat untuk melanjutkan hubungan.
(Jupiter)


8 tahun lalu kita berjabat tangan, malu-malu, berkenalan dalam diam.
Kamu sedang sedih, dan aku sedang membutuhkan teman.
Kita ngobrol panjang-lebar, dan sejak itu tak terpisahkan.

7 tahun lalu, kamu bilang sayang. Aku deg-degan setengah mati.
Aku terpaku. Bahagia, tapi bingung dan takut. Tak sepatah kata terucap.
Tapi tak mengapa. Genggaman tangan kita telah mengatakan segalanya.

6 tahun lalu, ketika semuanya terasa sempurna, kita terempas.
Mereka yang mencintaiku, membencimu.
Mereka pikir kamu sakit.
Ah, sudahlah, tak ada gunanya untuk mengingatnya lagi.
Mereka memang tak akan pernah mengerti....

Kamu mengalah. Aku pun pergi jauh.
Dan aku masih ingat bagaimana kamu nekat nyetir 6 jam dan mengambil risiko bertemu mereka yang telah menyakitimu, hanya untuk melihatku pergi.
Kamu memang gak pernah berubah. :)

Empat..., lima..., enam..., tujuh tahun berlalu.
Cerita kita semakin nyata meski hanya tersambung oleh kabel telepon, dan internet.
Bagiku ini luar biasa.

Dalam lima tahun terakhir, hanya 6 kali kita berjumpa.
Pertemuan-pertemuan rahasia, singkat, tapi cukup untuk membuat kita semakin kuat bertahan.

Sayang, saat ini sudah 8 tahun kita bersama.
Jutaan tawa dan air mata, semuanya nyata dan indah.
Oh, aku sungguh bangga akan kita.
I love you.

(psst...i guess we did it, didn’t we? :* )
(Niena)

Hujan yang tak begitu deras di luar, rintik-rintik, basah…. Sepi… Dingin.
Diserang rasa bosan tiada tara. Ada sesuatu yang hilang rupanya. Kekasihku
nan jauh di sana…. Sesepi hatikukah dia di sana ?
Kalau boleh meminjam Come Away With Me-nya Norah Jones:

And I want to wake up with the rain
Falling on a tin roof
While I'm safe there in your arms
So all I ask is for you
To come away with me in the night
Come away with me….

Inikah rasa rindu yang sebenarnya ?
Rindu usapan lembut tangannya di kepala dan wajahku sambil dipandang dengan tatapan penuh cinta. Rindu pelukan mesranya… ciuman hangat bibirnya yang tak bisa digantikan oleh apa pun. Rindu obrolan ringan kami tentang hal-hal sepele, menertawakan hal-hal yang gak jelas juntrungnya… Aku rindu semua tentang dirinya yang jauh. Sudah hampir setengah tahun kami berjauhan… Berat? Ya pasti… tapi selalu mencoba berpikir positif, mencari kesibukan yang bermanfaat. Meski tidak mudah, tapi kami mencoba tetap berjalan. Saat-saat tertentu menjadi sangat tidak nyaman ketika ketidakhadirannya membuat kerinduan semakin memuncak…. Langsung angkat telepon… bercumbu sambil membayangkan tubuh halusnya menyentuh tubuhku. Tak peduli berapa pulsa melayang. Tak terbayang pula satu saat nanti kami bertemu dengan rasa rindu membuncah, luber seperti banjir Jakarta.

Ah, semoga kami tetap bisa bertahan sampai suatu saat nanti kami bisa bersama lagi…
(Lisa)

Sunday, July 1, 2007

Say It Out Loud Juni 2007


Topik: Jatuh Cinta Pertama Kali

Setiap perempuan mempunyai saat yang berbeda-beda ketika menyadari dirinya seorang lesbian. Mungkin saat jatuh cinta pertama kali semasa abege. Mungkin pada saat usia sudah lewat seperempat abad dan menyadari diri kita jatuh cinta pada sesama perempuan. Kapan dan bagaimana terjadinya peristiwa itu? Yuk berbagi cerita...

Berikut ini tanggapan atas topik Juni 2007.


Sejak SD sebenarnya aku sudah merasa ada yang aneh pada diriku, tapi tidak begitu kupedulikan. Aku mulai merasa menyukai sesama cewek teman sekelasku sejak SMP. Kebetulan dia duduk dekat pintu masuk di depan dan aku di sisi kiri. Diam-diam aku mengaguminya, tapi entah mengapa anak itu tiba-tiba saja harus pindah ke sekolah lain. Itu ternyata bukan akhir perasaanku, kami masih terus berteman melalui surat, di waktu luang aku pun berusaha ke rumahnya meski agak jauh dari rumahku. Rasa ini tumbuh terus sampai lima tahun, namun hanya sebatas rasa suka, dan berhenti ketika ia memutuskan akan menikah..., aih pupuslah sudah harapan. Sejak saat itu kuputuskan untuk tidak bertemu lagi dengannya.

Setelah dia aku suka dengan seorang teman lain, ia bersuku Tionghoa, sayangnya anak ini merasa kalau aku lesbian jadi menjauhi pelan-pelan, duh kecian aku. Saat kuliah aku nggak minat sama cewek mana pun, saat itu aku serius belajar dan melampiaskan semuanya ke pelajaran. Ketika baru lulus kuliah dan punya line internet di rumah aku browsing, kenal dengan beberapa perempuan coba melakukan pendekatan tapi nggak cocok, sampai akhirnya nggak sengaja ketemu kekasihku yang sekarang. Dia cinta pertama secara jiwa raga, dan Insya Allah akan menjadi cinta yang terakhir.
(Al)


Perasaan aneh ini mulai muncul ketika masih duduk di kelas empat SD. Naksir berat dengan teman sekelas kakakku, yang rumahnya bertetangga dengan kami. Berambut pendek, andro, aku mengagumi sosoknya yang seakan bisa melakukan apa saja. Juara lomba lari di sekolah, dan bisa bermain dengan siapa saja laki-laki maupun perempuan. Ketika pertama kali menonton acara lomba 17 Agustus, aku sudah sangat menyukainya. Dengan konyol kukirimi ia surat kukatakan aku suka dia, karena dia manis dan jagoan. Ternyata tulisan surat itu menjadi bulan-bulanan adiknya yang sekelas denganku. Dia bilang tulisanku bagai tumpukan cacing berbaris, hahaha. Bodo ah, yang penting aku suka kakaknya.

Perasaan terus menguat sampai aku kelas II SMP, seorang teman sekelas kerap mengirimiku surat, mengajakku untuk belajar di rumahnya. Sejalan dengan waktu kami pun belajar dari alam bagaimana mencintai selama lima tahun hingga kami tamat SMA. Ciuman pertamaku berasal dari dia, suatu malam ketika aku menginap di rumahnya dengan alasan belajar, ia mencium setengah bibirku. Beugh, rasanya dashyat! Namun aku tidak suka mengingat cinta di usia muda ini, naif dan banyak cobaan. Buku hariannya ketahuan ibunya, teman yang sudah curiga kami selalu berdua, hingga akhirnya dia meninggalkan aku berpacaran dengan teman sebangku SMA yang ternyata juga L. Kata orang cinta pertama itu indah menurutku cinta yang terbaik itu cinta yang terakhir.
(Rain)


Menjadi seorang perempuan yang menyukai perempuan buatku tidak terjadi semalam. Aku suka sekali melihat dua perempuan bercumbu, sekedar saling tatap atau berpegangan tangan. Dipicu oleh rasa penasaran terhadap cinta sesama jenis ini, aku mengawali pencarian di internet tentang berbagai komunitas lesbian. Bersosialisasi langsung dengan perempuan yang sudah menyadari dirinya lesbian, berkenalan, tukar pengalaman hingga suatu saat menjalin hubungan yang serius. Aku jatuh cinta, merasa nyaman, cinta itu tumbuh, membuat goncangan-goncangan hebat di hati.

Kemudian menyadari banyak hal dan menelusuri masa mudaku. Ternyata cuplikan-cuplikan rasa sukaku terhadap teman-teman perempuanku lumayan banyak. Awalnya aku kira cuma rasa kagum, tapi mungkin lebih dari itu. Mulai dari si pengibar bendera, teman sekelasku yang cantik, berbadan langsing dan tegap itu. Setiap aku di dekatnya, dadaku berdegup kencang, aku sampai menurunkan pandangan karena tidak kuat untuk menatap dirinya. Ada beberapa teman sekolah yang teringat olehku, cantik, kelembutannya membuatku terpesona. Aku pun tanpa sadar bermimpi menikahi seorang perempuan, padahal aku belum tahu apa lesbian itu. Ternyata, pada akhirnya dengan pergulatan batin hingga sekarang, aku memang perempuan yang mencintai perempuan.
(Chubby-Gal)


Diri ini hampir sepenuhnya memahami dan mengerti indahnya makna cinta saat pencapaian kedewasaan di usia mendekati seperempat abad. Ketika wajah bersemu kemerahan curi-curi memandang dia dari kejauhan adalah saat berseminya cinta di kampus ceria seindah bunga sakura. Ketika jiwa penuh pergolakan mencari makna pikiran yang melanglang mabuk kepayang setiap melihat keindahan perempuan adalah saat bingung menentukan arah gejolak remaja yang berontak dan menolak untuk dibendung. Ketika main kawin-kawinan, tertawa berdua bersama sahabat kecil adalah saat aku menyadari ada perasaan berbeda yang sama sekali belum mampu kucerna saat itu dan kuputuskan membiarkannya tumbuh subur di ruang hatiku sampai dia layu pada waktunya, sampai dia bosan dan bersedia menginjakkan kaki untuk menjauh dari ruang itu selama-lamanya. Tetapi…aku takut….bila benar masa itu akan tiba.

(Arie)

Buat semuanya, terima kasih telah mengirim tulisan untuk Say It Out Loud. Jika ada usulan topik, silakan kirim e-mail ke redaksi. Sekali lagi, terima kasih! :)

Sunday, June 3, 2007

Say it Out Loud Mei 2007


TOPIK UNTUK BULAN INI (MEI 2007):

Rahasia tentang identitas seksual ternyata sangat sulit disimpan sendirian. Kita sangat ingin membaginya kepada seseorang. Bagaimana dengan kamu? Siapakah orang pertama yang kamu bagi rahasia tentang orientasi seksualmu? Mengapa kamu memutuskan membagi rahasiamu dengan orang tersebut?

Ayo bagi pengalaman pertamamu ketika pertama kali bercerita tentang orientasi seksualmu...

Dead line
: 30 Mei 2007


Berikut ini tanggapan atas Topik bulan Mei 2007.


Menyimpan rahasia amatlah menyiksa. Tak tahan dengan kesunyianku, akhirnya jari bergegas mengetik kata "Lesbian" di kolom "search" setahun lalu. Dari situlah berawal perasaan bebas dan lega yg selama 33 tahun yang kupanggul tanpa seorang pun tahu. Kujalani usia remajaku sewajar mungkin. Kunikmati wajah-wajah manis dan senyum menarik dari mahkluk yang disebut perempuan. Usia dewasa kusambut tenang, walaupun dada ini bergejolak menahan gairah yang siap ditumpahkan ke makhluk yang berwujud perempuan. Akhirnya aku tiba di ujung jalan kodratku sebagai wanita yang harus melangkah ke gerbang perkawinan, meskipun lubuk hati yang paling dalam memberontak. Namun apa daya, keadaan itu harus kuterima tegar. Ketegaran yang membuahkan hasil tak ternilai untuk hidupku. Seorang makhluk mungil terlahir di dunia ini. Dan melalui ketikan kata "Lesbian" aku coming out, dan akhirnya aku menemukan teman-temanku yg selama ini kucari-cari tanpa jarum kompas di tangan.
(Magda)




Mengaku memiliki perasaan “tertentu” pada seorang sahabat perempuan di usia 25 tahun, dan menuliskannya pada surat yang dikirimkan melalui disket adalah sebuah pengalaman tidak terlupakan. Tentu saja pengakuan itu pengakuan perasaan suka dan sayang pada sahabat yang dikenal sejak bangku SMA kemudian terus berlanjut dekat semasa kuliah dan juga saat sudah bekerja. Mengaku sebagai lesbian? Tentu tidak, karena belum terpikir bahwa perasaan suka yang mendalam ini menandakan bahwa orientasi seksualku ini memang berbeda dengan mainstreem masyarakat heteroseksual. Pengakuan tersebut tidak berbuntut penolakan secara langsung, hanya sahabat tersebut berujar ”Sudah lupakan perasaan kamu itu, tidak usah dilanjutkan dan diterus-teruskan”. Pengakuan yang sejujurnya dan dengan penuh kepastian, terjadi pada usia 27 tahun, saat keyakinan akan pilihan hidup ini hendak dijalani. Pengakuannya kepada perempuan yang dicintai tentunya, dan bravo, cintaku tak bertepuk sebelah tangan.
(Ratri M)




Aku mengatakan hal ini kepada 4 orang teman kampusku. Mungkin desakan hatiku sendiri yang seolah-olah ingin bebas dari pertanyaan mereka, kenapa aku belum pernah sekalipun pacaran. Aku ingin membuat pengakuan kepada teman-teman terbaikku (baca: teman-teman geng kampus waktu itu), bahwa aku seorang lesbian. Saat aku mengungkapkan siapa diriku, mereka memandangku dengan mata terbelalak, seakan tidak percaya pada apa yang dilihat dan didengar, seperti halnya aku adalah seorang musuh dalam selimut yang menggunting dalam lipatan. Ketika seleksi alam dalam dunia pertemanan pun terjadi, hanya seorang sahabat dari 4 teman terbaikku yang tetap menjalin hubungan denganku. Hanya saja, sahabatku ini tidak pernah mau mendengar kisah bahagia ataupun sedih tentang hubunganku dengan seorang wanita. Kalau aku sudah mulai bercerita, dia akan menjejaliku dengan kata-kata bukan cacian atau makian, tetapi nasihat kehidupan yang mengiris hati dan menyesakkan dada. Karena menurutnya, sahabat yang baik adalah sahabat yang akan menolong ketika sahabatnya sendiri ketika hendak jatuh ke jurang. Menurutnya, aku adalah seseorang yang hendak jatuh ke jurang. Jadi, katanya “Jangan suruh aku mendorongmu jatuh ke jurang”. Aku hanya bisa diam, tidak tahu harus berkata apa.
(Arie)





Menyimpan rahasia ini seperti membawa bom waktu yang akan siap meledak menghancurleburkan apa saja. Setelah mengumpulkan aneka jin keberanian, aku memutuskan menelepon teman lelaki hetero terbaikku dan memaksanya bertemu denganku detik itu juga. Suaraku yang histeris dan mendesak di telepon membuatnya ikut-ikutan panik. Seketika itu juga, dia pontang-panting menjemputku. Kelak aku baru tahu bahwa dia membatalkan janji pertemuan dengan orang lain demi bertemu denganku. Kelak aku baru tahu dia nyaris menabrak bus karena menyetir gila-gilaan.
Kami meluncur di mobil menuju sebuah mal besar di Jakarta. Kakiku lemas seperti lumpuh saat dia mengajakku turun dari mobil di area perparkiran. Gawatnya lagi, tanganku juga gemetar hebat sehingga sahabatku jatuh kasihan (plus cemas aku bakal pingsan di tempat), membiarkan aku bercerita di dalam mobil. Keringat dingin mengalir di punggungku saat aku berusaha mengatakan kejujuran kepadanya. Dari awal sampai akhir, kalimatku kacau balau dan superberantakan. Setelah ribuan kata-kata tumpah ruah membanjiri mobil, yang muncul rasa hening yang begitu melegakan. Rasanya seperti habis melahirkan (ibu lesbian nggak punya metafora lain)!
Sahabatku memandangku dengan tatapan geli, menghela napas legaaaa, lalu berkata tenang, “Oooo, cuma itu aja. Duh, gitu aja repot. Gue pikir urusannya lebih genting, seperti lu dikejar-kejar polisi karena mengedarkan narkoba.” Ya ampun, gubrak deh.
(Lakhsmi)





Pertama kali saya mengaku lesbian adalah kepada sahabat baik yang sudah saya kenal sejak SMP. Waktu itu saya berusia 21 tahun, dan masih berstatus mahasiswi. Bersama sahabat baik ini, saya melalui berbagai peristiwa hidup mulai dari yang konyol, manis, sampai duka. Namun seiring berjalannya waktu, saya merasa jarak semakin lebar di antara kami karena saya harus “berbohong” padanya setiap kali bercerita tentang siapa “orang” yang kutaksir. Tidak tahan lagi, akhirnya dalam salah satu kesempatan nongkrong di kedai kopi, saya berkata takut-takut, “Ehm, gue mau terus terang sama elo nih.” Melihat saya pucat dan tegang, bisa kulihat sahabatku ikutan panik. “Kenapa lo?” tanyanya.
“Selama ini gue nggak jujur sama elo.”
Sahabat saya makin serius, tegang dan menahan napas, apalagi saya tidak berani menatap matanya.
“Apa? Di bagian mana lo nggak jujur ama gue?”
Akhirnya tersemburlah kata-kata itu bagai air bah. “Gue... gue lesbian.”
Sahabat saya memandang saya lama dan serius, lalu mengembuskan napasnya yang ditahan. “Sialan, lu! Gue pikir lu bohongin gue apa! Lesbian doang! Kirain elo mau cerita yang lebih dramatis atau apa!”
Halah!
(Alex)



Tahun pertama bersama pasangan terasa berat menyembunyikan aroma cinta di hadapan ibuku. Suatu hari beliau bertanya ada apa aku dengan R. Aku pun akhirnya coming out. “Aku mencintainya Ma,” jawaban itu ternyata menjadi kiamat kecil bagiku dan pasangan. Reaksi panik menemukan anak sulungnya mencintai sesama jenis, membuat ibuku seperti merasa bersalah, dan langsung mencarikan berbagai macam solusi agar aku bisa disembuhkan, jangankan resep dokter, jampi dukun dan doa tokoh agama pun ikut bertindak. Selama enam bulan sahabat aku dan pasangan bertambah dua orang, psikiater dan psikolog. Tidak cukup itu saja, kami sempat disidang, aku terharu kekasih berani berhadapan dengan orangtua, menjelaskan keadaannya dan memperkuat bahwa kami berdua anak baik yang berusaha mengabdi pada orangtua. Aku nyaris dengan satu koper penuh pakaian meninggalkan rumah, R bilang itu bukan solusi, berbakti pada orangtua itu bernilai emas. Bakti dan kesabaranku kepada orangtua mendapatkan pahala. Sampai sekarang aku yakin ibu masih mengetahui aku bersama R, tapi beliau mendiamkan saja.
(Al)




Mengurusi pameran karya pelukis maestro butuh kosentrasi. Barang coreng moreng tersebut harus ditangani bagai bayi baru lahir. Hari itu aku lumpuh untuk mengkoordinirnya, murung muram tanpa semangat. Bosku, perempuan beranak empat, 45 tahun, cantik, enerjik, selalu penuh vitalitas, menangkap sinyal lemasku sejak seminggu, menanggungjawabi pameran mahal itu membuat ia cemas. Ia memintaku untuk jujur, “Ada apa? Mengapa tidak maksimal?” Aku bilang tak berani menjelaskannya kecuali melaui sms. Kalau kakak mengetahui sebenarnya apa kakak tidak akan menjauhiku? Tidak mengurangi nilai persahabatan kita? Tidak membuat kakak berubah? Dibalas: Aku mengenal kamu cukup lama, tahu kamu siapa, mengenal kamu pada saat marah, sedih, senang dan ketika kita di bawah tekanan kerjaan, don’t worry adikku. Kuketik lagi: Kakak, aku mencintai seorang perempuan, kami baru disidang oleh keluarganya, dilarikan ke luar negeri, aku kalut, sepi dan bingung. HP bergetar, ia mencoba menelpon, aku tak berani mengangkatnya. Kak, please lewat sms aja, aku belum berani dengar suaraku membuat pengakuan ini. Kepada beliau aku pertama kali coming out. Bagai bersatu dalam goresan lukisan, persahabatan kami terasa lebih berkarakter dan berwarna. Ia tak pernah berubah dan kami menjadi sangat dekat.
(Ade Rain)

Terima kasih pada teman-teman yang sudah bergabung bersama Say it Out Loud! Kita akan bertemu lagi pada topik berikutnya. Untuk ide dan usulan topik, silakan kirim e-mail ke redaksi.

Cheers