Friday, April 4, 2008

Topik: Yuk Berjuang!

Say It Out Loud April 2008

Mayoritas lesbian di Indonesia bukanlah anggota LSM maupun pejuang gerakan LGBT. Banyak di antara kita adalah pekerja biasa, para perempuan yang tenggelam di dunianya sendiri-sendiri. Tapi, bukankah banyak hal yang dapat kita lakukan untuk berjuang? Misalnya, Mother Teresa dari Calcutta berjuang dengan kasih sayang, Mahatma Gandhi berjuang dengan ajaran Ahimsa, Rabindranath Tagore berjuang melalui tulisannya. Nah, sebagai lesbian, apa sih yang telah kita lakukan untuk komunitas LGBT(secara khusus) atau masyarakat (secara umum)? Tindakan paling kecil pun sangat berarti kok. Seperti kata John F. Kennedy "ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country".

Ayo, ayo, bagi ceritanya dan berikan inspirasi buat teman-teman lesbian semua!

Deadline: 30 April 2008


Perjuangan buat saya adalah dengan menjadi sahabat yang terbuka dengan teman-teman saya. Dalam banyak hal saya selalu jujur kepada sahabat-sahabat saya, kecuali untuk masalah yang satu itu. Saya tak pernah coming out kepada mereka. Tapi jika seandainya saya ketahuan lesbian, saya berharap teman-teman saya tidak menilai saya semata-mata sebagai lesbian, tapi karena melihat saya sebagai orang yang sama yang telah menjadi sahabat mereka selama ini.
(Dark Chocolate)

Aku berjuang dengan menjadi volunteer di LSM yang mengurusi isu perempuan dan anak-anak. Aku sendiri tidak coming out, tapi kupikir itu tidak penting karena ada masalah yang lebih besar untuk diperhatikan oleh kita semua sebagai perempuan.
(Nana)


Saya berjuang dengan mengajukan diri menjadi salah satu penulis di blog Sepoci Kopi. Sebagai perempuan yang sudah coming out kepada orangtua dan diterima dengan tulus oleh keluarga, sebenarnya saya udah beberapa kali diajak untuk menjadi contoh "cerita sukses lesbian yang coming out" oleh beberapa teman aktivis. Tapi saya menolak karena saya nggak mampu memberikan pencerahan dengan berbicara. Bisa-bisanya nanti malah saya salah ngomong. Saya pikir saya senang menulis, walaupun hasilnya nggak sehebat penulis profesional. Maklum, saya kan penulis pemula. Dengan bantuan teman-teman redaksi di Sepoci Kopi, khususnya Lakhsmi, tulisan saya diedit secara "kejam". Tapi saya senang, karena hasil tangan dingin dan komentar jujur Lakhsmi membuat saya belajar menjadi penulis yang lebih baik lagi.

Semoga sharing saya di blog Sepoci Kopi menginspirasi teman-teman untuk menemukan jawabannya di dalam hati masing-masing.
(Fredric)

Tuesday, March 11, 2008

Topik: Cerita Gembira Hidup sebagai Lesbian

Say It Out Loud Maret 2008

Pernah merasa sangat gembira? Bangga sebagai lesbian? Tentu saja pernah! Cerita yang riang dan ceria memberikan senyum dan tawa lepas. Mari, bagi-bagi ceritanya yang secerah matahari pagi, memberikan gelora semangat buat teman-teman. A happy person is not a person in a certain set of circumstances, but rather a person with a certain set of attitude.

Deadline: 31 Maret 2008

Begini loh caranya, agar bisa merasakan kesadaran diri dalam hidup bahagia sebagai lesbian. Kalau kita lagi senang, atau gembira, cobalah mengingatkan diri bahwa "I am lesbian and look at me, I am happy now". Lakukan ucapan itu untuk hal-hal kecil yang tampaknya remeh tapi di detik hatimu sedang riang gembira. Misalnya aku nih, aku tuh senang beraktifitas sosial bagi kegiatan gereja. Jadi setiap saat aku sedang melakukan tugas pelayanan sosial dalam bentuk (misalnya) berkunjung ke panti asuhan, hatiku selalu bersemangat. Nah, saat itu aku selalu mengingatkan diriku, "Aku gembira karena aku berguna, dan hey, aku lesbian". Sumpah, ucapan itu adalah mantra tokcer yang bisa menyihir kamu untuk menjadi semakin pe-de hidup sebagai lesbian!
(Lakhsmi)

Menyadari diri lesbian mengejutkan diri ini. Setelah bertahun-tahun berjuang dalam diri, akhirnya saya menemukan kedamaian. Dengan kesadaran, pasrah dan eling, saya akhirnya bisa merasakan kegembiraan hidup sebagai lesbian. Saya mencari teman yang senasib, nggak usah banyak-banyak karena diri nggak butuh teman seabrek-abrek, hanya secukupnya saja. Secukupnya yang bisa membuat kami semua akrab dan dekat satu sama lain, saling membantu, dan saling mendukung. Saya lulus kuliah, bekerja, menopang hidup tanpa menggerogoti orang lain, independen, mempunyai mentalitas nggak mau merepotkan keluarga maupun teman. Akhirnya inilah saya, lesbian yang nggak malu-maluin, mempunyai tempat di dunia karir, berusaha keras berkarya di dunia sosial, dan menjadi manusia yang bertakwa, beriman kepada Tuhan yang mahaesa.
(Beetle)

Yang bikin aku bangga sebenarnya pas aku lulus S2 di Tokyo. Orangtuaku datang, pacarku mendampingi. Walaupun aku nggak pernah ngaku ke orangtua siapa dia sesungguhnya, aku bahagia banget berkumpul bersama-sama. Sejak tinggal di Jepang, jarang sekali mendapat kesempatan seperti ini. Biarpun aku dan pacar harus diam-diam bergerilya saling mencintai, aku tidak takut dengan masa depanku. Kami berdua adalah dua perempuan kuat yang mapan dan nyaman dengan satu sama lain. Dan kebahagiaan itu mencapai puncaknya saat kelulusanku. Sekarang, di ruang tamuku, ada foto orangtuaku bersama aku saat graduate dan tentu saja pacar (berempat), terbingkai dengan manis yang dengan bangga kuunjukkan kepada setiap tamu yang mengunjungi apartemen kami berdua. Itulah saksi kebahagiaanku bersama orang-orang yang kukasihi.
(Makiko Chan)

Aku bahagia dengan diriku! Hidup sebagai perempuan lesbian berusia 29 tahun, nggak merasa tekanan untuk coming out, dan keriangan paling tinggi adalah memperkenalkan kekasih dengan sobat-sobat hetero terbaikku. Nah, setelah berkali-kali membawa pacar di tengah the hetero gank, aku masih ada sedikit rasa ragu-ragu apakah teman-teman baik heteroku dapat menerima kehadiran pasanganku. Suatu malam, di suatu restoran yang padat dan penuh, kami mengambil kursi sembarangan di satu meja yang available. Tiba-tiba menyadari pacar duduk terlalu jauh dari posisiku. Aku dan pacar tidak memedulikan keadaan ini, tapi tiba-tiba sahabatku yang duduk di sebelah pacar berdiri dan berkata, "San, nih duduk di sini." Dia memberikan kursi di sebelahnya. Sambil tersenyum lebar, aku menolak, diam-diam merasakan kegembiraan yang tumbuh meraja di hati. Bagiku, tindakan sederhana seperti itu adalah bentuk penerimaan mereka atas kehadiran kekasih dan oritentasi seksualku. Aku bahagia, begitu bahagia!
(Susan)

Kebanggaan dan kebahagiaan terbesarku adalah ketika partner menggengam tanganku dan mengatakan dia hamil. Kupandangi dia lekat-lekat lalu tersenyum, dan memeluknya erat-erat. Selama sembilan bulan menemani partner ke dokter memeriksa kandungan dan melihat titik kecil di layar monitor yang makin lama membesar membuat hatiku mengembang bangga.

Kebahagiaan yang membuatku berkaca-kaca adalah ketika aku menggendong buah hati kami pada hari kedua dia dilahirkan. Dengan tangan gemetar dan hati yang membuncah gembira campur takut, kupandangi si baby dengan matanya yang sipit dan tak mau membuka. Aku mendongak, dan memandangi perempuan terkasihku yang tersenyum begitu manis. Kupikir itulah puncak bahagiaku. Ternyata aku salah. Di kemudian hari momen-momen bahagia kami begitu berlimpah. Sebagai lesbian aku sadar betul betapa bersyukurnya aku mendapat kesempatan seperti ini.
(Alex)

Tuesday, February 12, 2008

Topik: Hadiah Romantis untuk Valentine

Say It Out Loud Februari 2008

Valentine telah tiba. Apa aja nih rencana atau hadiah atau ide romantis untuk Valentine? Ayo bagi-bagi cerita romantismu untuk Valentine. Siapa tahu bisa memberi ide buat teman-teman lain...


Deadline: 29 Februari 2008

Waktu merayakan Valentine pertama dengan kekasih, saya ingin memberikan kejutan yaitu berupa sekotak cokelat. Saya membawa cokelat itu di mobil menuju kantornya. Dalam perjalanan, tiba-tiba hape saya berdering. Bos meminta saya mampir di bank untuk mengambil kontrak perjanjian perusahaan saya. Karena kebetulan searah dengan kantor kekasih, saya berhenti di bank itu dulu. Ternyata urusan itu memakan waktu lebih lama dari yang saya bayangkan. Ketika selesai, saya langsung cabut menuju kantor kekasih.
Di restoran tempat date siang berlangsung, saya memberikan cokelat itu kepadanya. Dengan gembira kekasih menyatakan rasa senangnya dengan membuka kotak cokelat itu. Ternyata... jantung saya seketika berhenti. Ya ampuuuun, semua cokelat yang berada di kotak lembek dan meleleh. Saya lupa mobil saya terjemur oleh matahari jam dua belas di parkiran ketika saya mampir di bank. Rasanya saya mau kabur seketika dari restoran. Untung kekasih baik hati, dia mengecup pipi saya dan mengatakan "Terima kasih ya atas perhatian kamu. Happy Valentine day, Sayang." Duuuuhhh, hati saya langsung melayaang!!
(Serina)

Setahun lalu, aku berencana membuat kejutan kepada pacar dengan mengirimkan bunga ke alamat rumahnya. Kepada florist-nya aku minta dikirim jam sembilan pagi. Tapi lewat dari jam sembilan pagi, tidak ada kabar apapun dari pacar. Dia tidak meneleponku, apalagi SMS. Penasaran kutelepon florist dan kudapat kabar dari mereka bahwa bunga telah dikirim dan telah diterima dengan baik. Hah? Bingung kan. Dengan memasang wajah yang ditebal-tebalkan, aku menelepon si dia. Pada awal-awal percakapan, pacar sama sekali tidak memberikan reaksi yang berlebihan tentang hari Valentine. Akhirnya setelah bingung berbicara muter-muter nggak karuan, terpaksa aku menembak dia apakah dia sudah menerima bungaku. Dia bilang belum. Loh? Tambah bingung aku. Persis ketika kami berdua sedang bingung dan aku berniat hendak mengebom florist langganan kantorku itu, tiba-tiba telepon rumahnya berdering. Samar-samar terdengar suara pembantunya kepada pacar bahwa tetangga sebelah rumah memberitahu ada kiriman bunga yang nyasar ke rumah mereka. Ternyata pembantu di tetangga sana masih baru dan begitu saja menandatangani kertas tanda terima bunga. Sambil tertawa-tawa pacar bilang dia hendak menjemput bunganya di rumah tetangga. Hahahaha... Benar-benar bunga Valentine yang bikin repot sedunia!
(Usagi Red)

Tiga tahun lalu saat baru tinggal bersama kekasih, saya berusaha membuat surprise untuk Valentine. Karena kebetulan saya kursus pembuatan kue, saya berusaha membuat kue cokelat favoritnya dengan bentuk hati . Tapi karena di rumah kami tidak miliki oven, saya terpaksa “meminjam” oven di rumah teman untuk membuat kue tersebut sepulang kerja. Setelah menghabiskan 6 jam akhirnya kue pun jadi, dan sembunyi-sembunyi saya pulang pada pukul 11 malam dan langsung memasukkan kue itu ke kulkas. Sesampainya di kamar, yayang cemberut mengira saya ngelayap nggak jelas sama teman saya itu di malam Valentine. Namun sehabis mandi cepat-cepat, saya mengajaknya keluar kamar dan memberinya kado Valentine yang dibuat dengan penuh cinta itu. Yayang pun langsung memberikan pelukan dan ciuman bertubi-tubi.... Ah, senangnya.
(Dark Chocolate)

Friday, January 4, 2008

Topik: Apa Resolusi Tahun Baru Kamu?


Say It Out Loud January 2008

Selamat datang tahun baru! Pastinya tahun baru mempunyai harapan dan semangat baru. Ayo dong, apa sih resolusi tahun baru kamu? Cita-cita dan keinginan apa yang kepengin kamu penuhi di tahun baru ini, bagi diri sendiri, keluarga, atau kekasih? Cerita yaaaa....

Deadline: 31 Januari 2008

Resolusi? Nggak terlalu mengawang-ngawang dalam impian. Saya hanya ingin satu saja: punya pacar yang setia dan tulus mencintai saya apa adanya. :)
(Andreas)

Resolusi tahun baruku adalah... Satu, ingin panjangin rambut! Dua, ingin jalan-jalan ke Vietnam! Tiga, ingin lebih feminim! Empat, ingin melanjutkan sekolah S2! Lima, ingin dapat beasiswa! Muluk-muluk nggak seeehhh? Doakan semoga tercapai.
(Joana)

Dari dulu sih aku nggak pernah tuh buat resolusi di tahun baru. Tapi sering ditanya-tanyain sama teman, akhirnya bingung sendiri. Tahun kemarin, aku membuat resolusi. Dari tiga resolusi, ternyata dua tercapai. Tahun ini aku buat tiga resolusi lagi; yaitu pengin dapat pekerjaan baru dengan peningkatan gaji dan harapan jenjang karir yang lebih baik, pengin berolahraga teratur, dan terakhir pengin belajar masak.
(blue planet earth)

Saya mau living together dengan kekasih! Setelah satu setengah tahun menjalani pacaran yang bikin repot karena perbedaan tempat tinggal, saya telah menabung cukup uang buat membayar uang muka pembelian rumah. Beli rumah buat tinggal bersama! Resolusi lainnya adalah mau banget membahagiakan Mama dengan membiayai perjalanan naik haji beliau. Ini akan menjadi kejutan buat Mama tercinta. Resolusi lain, mau hidup lebih sehat.
(Dilla Ndut)

Resolusiku untuk tahun tikus (secara aku yang shio ular) nggak muluk-muluk banget, yang penting tercapai semua. Karena diri ini udah nggak ketolongan lagi rindunya ama partner belum lagi godaan dari kiri kanan atas bawah depan belakang), mudahan nggak dosa, mengharapkan kontrak kerja suami partner di Brisbane tidak diperpanjang lagi. Berharap dapat rezeki durian runtuh dari BNI untuk datangi partner seandainya partner tidak pulang tahun ini. Menaikkan berat badan dikit biar agak berisi nggak kaya tengkorak hidup. Lebih feminim, padahal tahun-tahun kemaren sudah diusahakan sekeras baja (duh.. kenapa juga masih kelihatan tanggung ya?). Secara partner dan para sahabat mulai protes karena rambut sudah kepanjangan yang menurut mereka diri ini nggak pantas, mukaku jadi nggak lucu lagi, aku mau potong rambut ala Shane (The L World). Seandainyapun jadi dipendekin siap-siap didiamin ama ananda selama 1 minggu. Low profile high profit.
(Sagita Rius)

Malam Tahun Baruku berisi menyumpahi orang-orang yang membakar petasan. Lalu ada pacar yang menemaniku ngobrol dan berdoa bersama via telepon. Sentuhan yang manis adalah suara hujan di Bali yang ikut-ikutan masuk ke dalam saluran telepon kami. Enam bulan sebelum tahun baru tiba, aku telah merancang sebuah Resolusi Tikus, menghormati para tuan dan nyonya tikus. Sederhana saja resolusiku itu, berisi tidak lebih dari lima goal yang ingin kubobol tahun ini. Aku ingin menyelesaikan skripsi sesegera mungkin semester ini. Menyelesaikan kumpulan cerpen pertamaku—tidak peduli apakah ada atau tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan. Kemudian menulis satu novel solo yang sudah nganggur beberapa bulan karena aku bukan main malasnya. Terakhir, yang paling sederhana tapi butuh perhitungan agak serius, aku ingin liburan ke Bali.
(Oryza Sativa)

Sunday, December 9, 2007

Say It Out Loud Desember 2007

Topik: Kepergok?? Idih malunya!


Siapa yang kepengin kepergok ketika sedang bersama kekasih? Sudah hati-hati dan waspada, tapi masih aja ketahuan. Pasti memalukan, shocking, menegangkan, bahkan mungkin menggelikan. Bagi-bagi ceritanya ya!





Deadline: 31 Desember 2007






Aku punya pengalaman yang tiap kali aku mengingatnya selalu menimbulkan rasa greget malu dalam hati. Waktu itu, aku pengin 'nembak' cewek yang kutaksir habis-habisan. Aku mengajaknya makan malam romantis di hotel. Ternyata, mulutku kelu selama acara makan itu, nggak mampu mengatakan apapun tentang kelanjutan hubungan kami. Halah! Makan malam yang sia-sia. Jantungku berdetak terlalu kencang, kaki lemas, dan bibir kering. Sampai bill dibayar, tetap saja tidak ada percakapan yang kuinginkan terjadi.

Si dia bilang dia mau ke kamar mandi, pipis. Aku mengikutinya. Kamar mandi di lounge hotel ternyata sepi, tidak ada siapa-siapa. Sambil menunggu di depan pintu kubikel WC tempat si dia pipis, aku membulatkan tekad. Waktu dia muncul di depanku, kusambar dia cepat-cepat lalu kucium dia.

Ciumanku dibalas! Hore, dengan gembira, kuteruskan ciuman kami. Lama-lama makin hot. Aku nggak tau berapa lama kami berciuman sampai tiba-tiba terdengar suara gedombreng! Kami melompat terkejut dan menoleh. Di samping kami ternyata berdiri dua cewek petugas kebersihan kamar mandi. Yang bersuara ribut itu ternyata tongkat pel mereka yang terjatuh. Entah udah berapa lama mereka ngeliatin kami berciuman dan saling meraba-raba dengan ganas.

Tanpa ba-bi-bu, si dia menyambar tanganku, berjalan cepat melewati mereka berdua yang masih terpaku berdiri, lalu ngibrit keluar. Pontang-panting berlari menuju tempat parkir. Jantungku berdetak begitu cepat sampai-sampai kupikir aku kena serangan jantung dan bakal mati saat itu juga. Hihihi. Sumpah deh, sejak saat itu, aku kapok berciuman di tempat umum!
(Colleen)

Di awal-awal tahun kami pacaran, saat asmara masih membara, hampir disetiap kesempatan dan tempat ketika kami bertemu, kami sering banget mencari celah untuk bermesraan. Selain beberapa kali sengaja banget ke Ancol dan ke Hotel, bioskop juga jadi salah satu tempat favorit kami saat itu.

Suatu malam di salah satu bioskop daerah Jakarta Pusat. Seperti biasa kami memesan bangku paling pojok, A1 – A2. Ketika film dimulai, lampu mulai dimatikan... Perlahan tapi pasti kami mulai terbawa suasana, dari pegangan tangan, ciuman sampai adegan saling meraba, semakin lama perasaan dan keinginan semakin susah dikontrol. Kebetulan saat itu beberapa bangku disamping kami sedang kosong.

Saat sedang lupa daratan, tiba2 entah dari arah mana, ada suara laki-laki.. “ehmm ehmmm- asik ya” diselingi iringin tawa beberapa kali. Refleks aku mencari arah suara itu, tapi kekasih tak juga berhenti ia malah semakin asik melanjutkan ciumannya yg sudah menjalar kemana2. Suara laki-laki itu belum juga hilang, malah semakin terdengar. Perasaanku mulai was-was, kekasih mulai sadar mendengar, dan kami mulai mencari dimana arah suara itu. Tiba-tiba dari arah arah atas belakang (ruangan film) menyembul kepala orang, sedang asik menenggok kebawah melihat kami. Aku tersentak kaget, panik bukan kepalang, langsung merapikan bra dan seluruh bajuku yang sudah setengah terangkat.

Setelah menenangkan hati beberapa saat, aku berbisik pada kekasih menyusun strategi untuk keluar dari bioskop dengan aman tanpa melihat orang yang telah mengintip itu. Keluar ruangan kami langsung jalan cepat. Konyolnya saat kami berjalan, terdengar langkah orang keluar dari ruangan atas, berjalan cepat mengejar kami. Dia sempat memanggil. Tanpa pikir panjang aku menarik kekasih untuk langsung berlari menuju mobil. Aku langsung menyalakan starter mobil... bruurrrr! Langsung kabur cepat - cepat.. Ahh lega rasanya keluar dari sana.

Di mobil kami diam seribu bahasa, kami pun sepakat untuk tidak membahasnya lagi. Malu, was-was, takut, trauma, tapi pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga. Sejak kejadian itu, kami sempat puasa beberapa bulan ngak ingin ke bioskop, dan sampai sekarang kami juga tidak pernah mau menginjakan kaki ke sana lagi.
(Garfield)

Hari itu aku yg jemput si dia untuk nemanin nyari VCD. Menit pertama perjalanan kami sampe di depan mall, dia masih anteng. Saat aku celingukkan nyari parkir kosong dan teduh, tahu-tahu tangan si dia sudah di dalam kaos poloku; pelan tapi pasti tangannya meraba-raba dengan seru. Secepat kilat aku arahkan mobil ke parkiran basemen; yang kupikir tempat paling sepi. Setelah parkir seadanya, aku yang sudah kalap langsung nerjang si dia.

Prittttt!!!!! Pritttttt!!!! Pritttt!!!!!!!!

Samar-samar kudengar suara sempritan dan suara kaca mobil digedor-gedor. Aku turunkan kaca mobilku dengan setengah tak sadar. Tampak seseorang berdiri dengan muka yang galak, tangan di pinggang, dan 2 mata yag melotot tot tot, berseragam ala sekuriti dgn sempritan terkalung di lehernya.

"Hei Bung, kalo mau mesum jgn di sini! Ini tempat umum!"

Tangan si dia menjulur memberikan uang seratus ribu sambil berkata "Maaf Pak, maklum namanya juga lagi kasmaran. Mengertilah, Pak!"

Tanpa ba bi bu dengan lutut yg masih lemes aku injak pedal gas meninggalkan basemen secepatnya. Setelah jauh, aku parkir mobil di pinggir jalan. Kami pun ribut saling menyalahkan, tapi ujung-ujungnya kami tertawa terbahak-bahak, apalagi memutar ulang adegan saat si sekuriti memanggilku dengan sebutan"bung". Jerengkah dia?! Hahahaha...
(Sagita Rius)


Suatu malam aku dan kekasih memaksakan diri bertemu di tengah waktuku bekerja. Karena namanya juga mencuri waktu, yah kami tidak bisa pergi jauh dari kantorku. Kami menikmati city lights dari sebuah kompleks stadion di Jakarta Selatan.

Tiba-tiba aku dan kekasih terbawa perasaan dan mulai praktek "mobil bergoyang". Tiba-tiba seorang polisi mengetuk jendela mobil. Kami segera sadar!! Dengan panik kami memakai baju seadanya, lalu terburu-buru membuka pintu mobil untuk menyilakan tamu tak diundang tersebut masuk. Aku bahkan tak mengenakan bra saat itu!

Kami beruntung bapak polisi itu (sebut saja Pak Dino) tergolong baik. Ia tidak kasar walau masih melontarkan kata-kata menyakitkan seperti "Kalian berdua cantik-cantik tapi kok sakit, memang dulu punya pengalaman apa sampai bisa begini?" Yah, komentar-komentar yang bikin kuatir dan menimbulkan rasa nyeri di hati. Ia sedikit mengancam akan membawa kami ke kantor polisi.

Kekasih pun membujuk Pak Dino untuk melupakan kejadian tersebut dengan menawarkan sejumlah uang. Pak Dino tak keberatan dengan angka yang disebut kekasih. Kami pun bebas! Selama tujuh hari selanjutnya kami berdebar-debar membayangkan serombongan polisi akan menggerebek rumah kami dan mengumumkan kepada seluruh keluarga. Tapi untunglah hingga saat ini tak ada polisi yang mengontak kami lagi. Fiuh...
(Robyn)

Monday, November 5, 2007

Say It Out Loud November 2007

Topik: Pernah dikira Cowok?

Perempuan yang mengenakan gaya busana dan berpenampilan maskulin terkadang mengecoh banyak orang. Mereka dikira lelaki, bukan perempuan. Peristiwa ini bisa menjadi peristiwa yang menggelikan, menyenangkan, maupun menyebalkan. Pernah mengalami peristiwa itu? Bagi-bagi ceritanya!

Deadline: 30 November 2007


Di taksi dalam perjalanan pulang dari bandara, aku terjebak macet. Seorang anak kecil gelandangan berdiri di samping jendela, menempelkan wajahnya, dan mulai memohon-mohon agar diberi recehan.
"Oom, kasihan, Oom. Buat makan, Oom."
Oom? Aku melotot! Sialan. Rencananya mau kasih uang, jadi kehilangan mood. Supir taksi tertawa terbahak sampai lampu lalu lintas yang bikin macet berubah menjadi warna hijau.
(lonely stone)

Aku menjemput Tante dari acara arisan ibu-ibu. Karena Tante belum kelar, beliau menyuruhku masuk ke rumah temannya dan menunggu sejenak. Saat Tante sibuk di dalam rumah, ada seorang bapak-bapak sedang mengepak barang-barangnya di dapur. Oh, rupanya selain arisan, ada juga acara presentasi perlengkapan memasak. Secara aku iseng, aku bertanya, "Itu buat apa, Pak?" Ditanya seperti itu, si Bapak langsung bersemangat tinggi. Dia mengeluarkan barang besar yang tampaknya seperti blender. Dia mencolok ke listrik dan langsung mencerocos tanpa sempat dipotong, "Gini, Mas, mesin ini sangat fungsional. Bisa digunakan untuk... bla, bla, bla... Nah, Mas kalau pencet tombol yang ini, Mas bisa lihat mesin ini... bla, bla, bla... Mas suka jus wortel tidak?" Dia mendongak. Aku buru-buru mengangguk, keasyikan dengan penjelasannya. "Kalau begitu, Mas tinggal masukin potongan wortel lalu... bla, bla, bla...."
Hihihihihihi.... Waktu pulang, aku nggak bisa nahan senyum saat Tante bertanya dengan heran, apa yang aku obrolkan dengan si Bapak penjual blender.
(Blue)

Saya pergi ke mal, iseng jalan-jalan sama pacar saya. Kami masuk ke toko baju, tertarik dengan aneka kaos yang gambarnya lucu-lucu. Kebetulan diskon pula! Saya menemukan kaos yang tulisannya keren banget: "I'm with Her", dengan jari yang menunjuk ke kanan. Saya bilang saya mau beli kaos itu, dipakai buat acara ke kampus. Pacar saya nggak berani membeli kaos yang sama. Ketika saya hendak membayar di kasir, tiba-tiba SPG-nya melirik-lirik ke saya dan senyum-senyum kepada pacar saya, berkata, "Mbak, kaos ini ada pasangannya loh. Diskon kalau beli sepasang!" sambil menunjukkan kaos berwarna sama dengan tulisan "I'm with Him." dan jari yang menunjuk ke kiri - kebetulan, persis ke arahku. Gubraakkksss!!!
(JR)

Waktu kuliah dulu, saya sering bantu-bantu teman jualan di kaki lima Malioboro. Karena tempatnya kecil, saya memilih duduk di pojok depan biar mudah melayani pembeli. Mungkin karena postur tubuh, wajah dan gaya duduk saya yang mirip cowok, ada aja calon pembeli yang memanggil saya dengan sebutan Mas. Awalnya saya langsung meralat dan bilang, "Mbak..., bukan Mas." Tetapi pembeli jadi malu dan meninggalkan saya sebelum saya sempat berkata-kata lagi. Lama-kelamaan saya sudah bisa bersikap lebih tenang. Kalo ada calon pembeli yang memanggil saya dengan sebutan Mas, saya cuma tersenyum sebelum bersuara, biasanya mereka ngerti, panggilannya langsung berubah, apesnya bukan jadi Mbak, tapi Ibu....
(Shany)

Waktu itu aku pergi makan malam bersama empat sahabat lesbianku. Komposisi kami adalah dua femme, dua andro, dan satu butch. Berhubung kami pergi ke restoran yang berada di pinggir laut, tentu saja kami ingin mendapat tempat duduk yang asyik. Tapi karena agak terlambat, meja yang strategis telah diisi oleh orang lain. Kami mendapat meja di tengah. Sementara temanku sedang sibuk memilih ikan dan aneka menu laut lainnya, aku sibuk bernegoisasi agar mendapat meja yang lebih oke. Ketika berhasil mendapatkan meja itu, aku mengajak seorang sahabatku untuk menjaga tempat tersebut sehingga tidak direbut oleh orang lain. Aku meminta agar si pelayan memberitahu ketiga sahabatku yang sedang berada di mejanya masing-masing.
"Tahu nggak, Mas, yang mana?" tanyaku
"Tahu!" kata Mas mengangguk yakin. "Yang dua ibu-ibu dan satu bapak-bapak kan?"
"Nggak!" kataku belum sadar. "Tiga ibu-ibu kok."
"Ada satu bapak-bapak!" seru Mas nggak mau kalah. "Yang itu kan??!"
Teman sebelahku sudah tertawa terkikik-kikik.
"Iya, yang itu! Tapi nggak ada bapaknya!" Aku melongo.
"Ada!" Mas itu tetap ngotot.
Tiga detik yang hening. Aku menyerah. Sambil menahan nyengir, aku berkata, "Ya, Mas, benar, kok! Ada satu bapak-bapak!"
Setelah Mas itu pergi, kami berdua tertawa sampai nyaris pingsan.
(Lakhsmi)

Sudah bukan hal yang baru dalam hidup saya jika saya sering disangka cowok, tapi di antara berkali-kali salah perkiraan itu ada salah satu kejadian yang akan membuat teman-teman saya terbahak-bahak jika saya menceritakannya.
Siang itu saya dan salah satu sahabat saya sedang hang out di salah satu mal, sedang asik mengobrol di cafe, tiba-tiba saya merasa kalau saya membutuhkan toilet, maka saya dan sahabat saya segera beranjak menuju toilet di lantai 2. Waktu masuk ke toilet perasaan saya memang udah sedikit janggal, pasalnya penjaga toiletnya ngeliatin saya dengan aneh tapi saya dengan cueknya berlalu di depannya. Begitu saya sudah masuk ke dalam toilet, baru saja saya mau membuka kancing celana ketika tiba-tiba pintu toilet digedor-gedor dan saya mendengar suara sedikit keras, "Mas... Mas... ini toilet cewek, bukan cowok! Toilet cowok ada di sebelah!!!" Dengan sedikit menahan emosi saya langsung membuka pintu dan melototi penjaga itu sambil berkata "Saya cewek, Mbak!!!" Penjaga itu hanya melongo menatap saya ketika saya menutup pintu toilet itu kembali. Sahabat saya yang dari tadi berdiri depan pintu terheran-heran. Satu menit kemudian dia baru sadar apa yang terjadi dan terus menertawakan saya hampir selama kurang lebih satu jam selanjutnya.
(Senko)

Biasanya kalau naik motor, saya selalu berseragam "lengkap". Helm, kacamata, saputangan, dan jaket. Dan gara-gara helmku yang kata orang seperti "tukang ojek banget", aku sering dilambai-lambai oleh calon pengguna ojek di jalan. Tapi kejadian paling lucu ketika saya keluar parkir di sebuah mal. Saat saya menyerahkan karcis ke petugas parkir, si petugas yang sok ramah bilang begini, "Saya pikir tadi cewek, Mas." Saya nggak sadar selama semenit dengan ucapannya barusan... tapi setelah berada di luar parkiran, saya bertanya dalam hati dengan kesal, "Maksud looo?"
(Alex)

Di telepon! Ya benar, sering kali di telepon aku dipanggil bapak, atau abang. Aih, mak, nih gara-gara suara bass anugerah Tuhan yang sering dikira suaranya bapak-bapak. Kalo kebetulan orang yang aku kenal tapi tidak mengenal suaraku di telepon, jadilah dia bakal kena makianku. Hehehehhehe, tapi kalo baru kenal, aku terusin aja jadi bapak-bapak sekalian ditelepon. Paling sering tuh kalo pas aku nelepon call center, maka dilanjutkanlah pembicaraan yang buat aku terpingkal-pingkal setelah selesai.
“Maaf, dengan bapak siapa saya berbicara?” katanya.
“Dengan Bapak Arie,” aku jawab dengan kesal dan ketus!
“Bisa dilanjutkan dengan nomor handphone-nya, Pak???”
Hahahahahahah, disangka bapak-bapak jadi membuatku ketagihan digodain mbak-mbak call centernya... Sekalian aja udah terlanjur basah, pikirku....
(-Arie-)

Kejadiannya di bandara. Pas menunggu, aku pergi ke toilet. Biasa, kalau jalan langkahku kan panjang-panjang gitu. Mengayun ala maskulin. Pas aku ngeloyor masuk ke toilet cewek, tiba-tiba terdengar teriakan keras, "Mas, Mas, Mas, sini Mas, sini Mas!" Wah, jadi emosi juga nih! Aku menoleh ke abang itu, lalu berteriak kesal, "Cewek!!" dengan tampang galak. Ngapain juga si abang panik gitu... padahal cewek-cewek yg di dalam toilet aja malah senyum-senyum manis menyambutku masuk.
(mellow_rhythm)

Sunday, October 7, 2007

Say It Out Loud Oktober 2007

Topik: Impian Manis di Masa Depan

Setelah mendengar aneka cerita di masa lalu, sekaranglah saatnya untuk bercerita tentang masa depan. Tentu saja kita semua tahu manusia merencana, Tuhan jua yang memutuskan. Tapi tidak ada salahnya bermimpi, bukan? Mari, ceritakan mimpi-mimpi kamu bersama pasangan atau seseorang yang bakal kamu cintai di masa depan.

Deadline: 31 Oktober 2007

Saya sih pengin yang sederhana aja deh di masa depan. Fisik sehat, tua bersama-sama, punya rumah tempat bernaung, punya tabungan yang dapat menopang hidup, terus pergi bersama pasangan ke Paris! Pengin lihat Eiffel, duduk di bawahnya, bergandengan, waahh... romantis deh. Itu cita-cita kami berdua.
(C'est La Vie)


AKU INGIN - aku ingin bersama kamu, selama-lamanya... sampai kita tua. Aku ingin menggenggam tanganmu, di saat aku menyongsong Kematian. Aku ingin menutup mata, melihat bayangan diri kamu dalam kegelapan. Mimpiku nggak muluk-muluk kok, aku ingin hal-hal sederhana, yang bisa kita buat.
(di_atas_ombak)


Berjalan bersamamu, di setapak itu. Bersama, bergandengan. Menatap harapan dengan mata berbinar. Aku bayangkan ada ibuku di sana, bersama ibumu. Ahhh... bisakah?

Aku menggenggam tanganmu. Terasa dingin, lembut, seperti es krim... bisa meleleh di telapakku. Kita berjanji saling mencintai seumur hidup, diiringi restu dan doa dari sahabat-sahabat dan keluarga.

Aku menutup mata, hendak menciummu di depan semua orang, menyatakan diriku dan dirimu telah saling memiliki. Tiba-tiba... buk! Aku membelalak. Aih, aku jatuh dari ranjang. Semua hanya mimpi. Kuraba-raba keningku yang benjol. Benarkah ini hanya mimpi? Ataukah bisa menjadi kenyataan?
(Blue)