Tuesday, October 19, 2010

Topik: Cerita Persiapan Finansial di Masa Tua

Say It Out Loud Oktober 2010

Keuangan penting bagi semua orang, apalagi lesbian. Tanpa adanya jaminan kekuatan hukum, lesbian harus bisa mengurus dirinya sendiri. Bersyukurlah lesbian yang terlahir mapan dan memiliki aset-aset yang menguntungkan. Bagaimana dengan lesbian lain? Tentu kita harus menyiapkan masa tua dengan merinci keuangan sebaik-baiknya. Mari berbagi cerita tentang rencana finansial, asuransi, aset, properti bahkan simpananmu. Berbagi untuk lesbian yang (mungkin) belum berpikir tentang jaring aman di masa tua ini. Yuk, yuk, yuk kita saling cerdas!

Deadline: 31 Oktober 2010

Kirimkan ke redaksi@sepocikopi.com

Cita-citaku selalu sama: jadi orang kaya. Pergi ke luar negeri dan melihat dunia. Aku ingin belajar di sana, melanjutkan studi di bidang fesyen dengan spesialisasi tekstil. Itu goal terbesar dalam hidupku. Berhubung belum punya kerja tetap dan masih sibuk buanget kuliah, aku baru memiliki dua persiapan finansial: asuransi (yang masih dibayar orangtua sampai sekarang) dan tabungan (di rekening yang terpisah dengan uang bulanan). Bangganya minta ampun tiap kali bisa menyisihkan uang bulanan (yang mepet) untuk menggemukkan tabungan sendiri. Aku sadar, hidup itu susah dan uang itu sulit. Apalagi di bidang fesyen seperti ini. Tiap dapat pekerjaan, gajinya selalu kusimpan, karena aku percaya pada mimpi, kerja keras, dan konsistensi... untuk jadi orang kaya. Hehehe. Hidup kaya! Hidup tabungan! Hidup celengan!! Yieyyyy!
(Emil)

Thursday, September 2, 2010

Topik: Keceriaan Bersama Teman Lesbian

Say It Out Loud September 2010

Siapa yang tidak senang berteman dengan sahabat-sahabat lesbian? Banyak lesbian mencari persaudaraan sehati sehingga mereka bisa saling mencurahkan cerita dan kisah rahasia yang kerap membelit kaum lesbian. Apakah kamu sudah menemukan teman-teman lesbian yang menyenangkan seperti itu? Apa yang kamu pernah lakukan bersamanya? Mari berbagi, bagaimana suka duka, seru gokilnya persahabatan dengan teman-teman lesbianmu. Kita tertawa keras-keras atas pertemanan yang tiada duanya ini. Cheers!

Deadline: 30 September 2010

Kirimkan ke: redaksi@sepocikopi.com

Kukenal Grilda sahabat lesbianku selama tiga tahun. Dia saudariku, yang tak pernah kumiliki. Kami sangat dekat, sampai pernah berpacaran. Tapi sayang kami nggak cocok sebagai pacar, lebih enak sebagai teman. Syukur juga putus kamu baik-baik, nggak kasar dan runyam. Sampai sekarang kami masih bersahabat karib. Dia adalah teman terdekat yang kumiliki, sampai-sampai, pacar kami masing-masing sering cemburu dengan persahabatan kami. Hahaha, kami harus menerangkan dengan sabar kepada pacar bahwa pacar adalah nomor satu, tapi sahabat dekat menduduki peringkat nomor dua!
(Joshua)

Friday, August 6, 2010

Topik: Happy Lesbian Wedding!

Say It Out Loud Agustus 2010

Mari mengkhayal. Jangan terlalu serius dong, kita akan berimajinasi. Kalau... nih, kalau ya... kalau kita para lesbian bisa menikah di negara ini, rencana apa yang bakal kamu lakukan? Kebayang nggak pesta pernikahan yang indah yang biasanya dijalani oleh teman-teman straight kita? Ayo, ayo, saatnya berimajinasi. Saatnya berbagi rencana, biarpun dalam khayalan. Kenapa tidak? Ceritakan tentang bentuk pernikahan yang akan kamu adakan apabila menikah. Tempatnya, pakaiannya, undangannya... Kita berbagi yuk.

Deadline: 31 Agustus 2010

Kirimkan kepada: redaksi@sepocikopi.com

Aku ingin resepsi pernikahanku dg partner terkesan unik. Dengan dandanan ala visual Kei-nya jepang dan partnerku mengenakan gaun ala gothic Lolita. Of course, dengan nuansa serba hitam. Tamu undangan pun memakai dresscode visual gothic. Wah! Pasti menyenangkan dan unik. Oh ya, konsep pestanya kami ingin gelar di gedung yang bergaya klasik ala Eropa. Dengan jamuan serba merah. Kalian bisa menebaknya, nggak? Aku saja bingung. Hahaha. Tapi itulah impianku saat resepsi pernikahanku nanti.
(Tenshisama)

Aku fans fanatik Cosplay biarpun bukan Cosplayer, aku pengen pakai tema Cosplay. Mungkin aku bakal pilih tema dark wedding seperti yang dipakai tim Endiru beberapa tahun yang lalu. Dari awal ngeliat foto itu, aku pengen sekali pakai kostumnya Orochi. Kemeja putih dengan dasi hitam, rompi hitam, dan jubah hitam dengan garis emas. Keren sekali. Pasanganku bakal pakai gaun putih yang dipakai Pinky. Gaunnya keren, simple tapi oke. Lokasinya beach party secara aku lahir dan besar di kawasan pantai. Tamunya adalah keluarga dan temen dekat, juga special guest and performance from Endiru team. Aku mengharapkan mereka mau nge-dance deh. Hmmm... kira-kira mereka mau gak ya pinjamkan kostum itu? (^_^)
(Naga Ankai)

Aku berimajinasi akan mengenakan celana panjang ketat warna hitam dengan blus tanpa lengan putih, jas hitam sampai pinggang, dasi kupu-kupu warna pink, sarung tangan putih, dan rambut digerai agar penampilan tetap feminin, bra dan thongs putih, stocking putih, sepatu hak hitam. Pasanganku tetap mengenakan gaun pengantin putih, sarung tangan transparan sesiku, no bra, thongs putih, stocking putih, sepatu hak putih. Acaranya seperti pernikahan biasa, di mana aku mencium bibir pasanganku setelah membuka kerudungnya. Acara potong kue, suap-suapan, minum champagne, kemudian bergandengan tangan masuk kamar pengantin untuk making love sampai pagi...
(Venita)

Legal ataupun tidak, saat aku menemukan partner, aku akan menikahinya. Tentu saat itu aku akan merundingkan detailnya dengan partner, tapi saat ini beginilah yang terbayang. Kami akan menyatakan komitmen di hadapan Tuhan dan bertukar cincin di sebuah gereja kecil. Hanya kami berdua pun cukup bagiku, tapi kalau ada pastor yang mau memberkati akan lebih sempurna. Resepsi sederhana akan diadakan sesudahnya, entah hari itu atau hari lain, tempatnya kemungkinan besar di rumah kami sendiri, namun tentu didekorasi cantik. Undangannya hanya sekitar 20-an orang, namun semuanya orang yang paling kami sayangi. Kami berdua mengenakan busana putih. Partner mungkin mengenakan gaun, aku mungkin mengenakan blazer atau rompi.

Acara pun cukup sederhana. Diawali dengan kata sambutan dari kami dan beberapa ucapan atau testimonial dari tamu, kemudian langsung ke acara makan bersama dan hiburan. Acara ditutup dengan pembagian souvenir dan ucapan terima kasih dari kami sendiri. Cukup sederhana, memang. Bagiku sekarang, resepsi atau upacara pernikahan tidak lebih dari sebuah proklamasi. Proklamasi komitmen kami di hadapan Tuhan, di hadapan satu sama lain, dan di hadapan keluarga dan teman-teman (syukur-syukur bisa di hadapan negara juga). Penting memang, tapi tidak sepenting hari-hari sesudahnya, saat kami benar-benar menjalani komitmen pernikahan itu.
(Ryou)

Wednesday, July 7, 2010

Topik: Liburan Telah Tiba

Say It Out Loud Juli 2010

Liburan telah tiba dan akan lewat dengan cepat. Manfaatkan momentum untuk berlibur. Pernah punya pengalaman liburan yang berkesan dengan pacar atau teman? Atau pertama kali jadian ketika liburan? Ada loh yang jatuh cinta pada pandangan pertama di kota tempatnya berlibur. Cerita dan dibagikan kisah-kisah indahnya tentang liburan. Dan jangan lupa, ceritain juga tempatnya di mana gitu. Biar bisa di-copy sama teman-teman semua.

Kirimkan kepada redaksi@sepocikopi.com

Deadline: 31 Juli 2010

Jadi inget liburan, inget kekasihku. Bukan di bulan Juli. Tapi liburan di akhir hari Lebaran. Saya dan dia menyempatkan jalan-jalan ke suatu tempat camping yang cukup jauh dari kota kami. Saya dan beberapa teman. Tapi kedekatan kami di malam pertama sudah terasa. Karena memang saya sudah suka sama dia sejak kami berkenalan, tapi ragu-ragu untuk menyatakan rasa suka padanya.

Lalu dia merebus supermie buatku, di sana cinta bersemi. Biarpun cuma makan supermie kuah dan air teh hangat, di bawah langit malam dan udara dingin... wah, sejuta rasanya. Saya memberanikan menggenggam tangannya. Eh, dibalas. Malamnya, saya dan dia tidur berdempetan erat. Pulang dari sana, kami sudah jadi sepasang kekasih. Sampai sekarang. Dua tahun lamanya.
(Lily)

Tuesday, June 8, 2010

Topik: Kebaruan Wawasan


Say It Out Loud Juni 2010

Kaum lesbian memang hidup di dunianya yang kecil, tapi jangan ragu-ragu untuk melihat semuanya dari kacamata yang luas. Perspektif perlu dibuka selebar-lebarnya, agar tidak melihat kehidupan dari pandangan lesbian saja. Misalnya nih, membaca buku-buku yang bertema umum, jangan hanya menutup pengetahuan tentang buku lesbian saja. Jangan cuma membaca SepociKopi saja, situs lesbian luar negeri banyak sekali yang siap dieksplorasi, menambah pemikiran dan wawasanmu. Lesbian, keluar dari dunia miniaturmu di dunia maya, dan mari cerita tentang pengalaman itu. Bagi, yuk, bagi, apa yang kamu lakukan biar memiliki ekspansi gagasan yang seluas langit.

Kirimkan kepada redaksi@sepocikopi.com

Deadline: 30 Juni 2010

Kebaruan wawasan bagiku adalah dengan mencari tahu sebanyak-banyaknya informasi tentang profesi. Sebentar lagi aku lulus kuliah. Jurusanku adalah Ekonomi. Aku bisa masuk ke mana saja dan menjadi apa saja. Aku tidak mau terbelenggu dengan standarisasi pemikiran tentang para lulusan ekonomi. Mencari tahu tentang aneka profesi orang-orang, apalagi yang unik dan susah dicari, akan membuat pikiranku lebih luas sehingga suatu hari saat aku lulus, aku sudah tahu apa yang kumau dalam hidup.

Sejauh ini aku masih belum tahu apa yang hendak kulakukan jika aku lulus kuliah. Tapi sejalannya waktu, dengan pencarian aktifku ini, aku pasti akan tahu masa depanku dengan lebih jelas. Ayo, jangan cuma duduk-duduk berpangku tangan saja dan pasrah dengan keputusan mayoritas. Jadilah unik dan jangan takut bereksplorasi.
(Bill)

Mengembangkan wawasan dan pemikiran tidak harus dengan membaca buku atau diperoleh dari bangku sekolah/ kuliah. Terutama jika kita belajar tentang kehidupan. Bagiku, belajar tentang kehidupan adalah nafas utama yang harus dimiliki setiap manusia yang “hidup”. Siapa pun, kapan pun, dan di mana pun, setiap orang bisa belajar dengan cuma-cuma. Disediakan GRATIS oleh Tuhan. Aku lebih suka melakukannya dengan membuka mata, membuka telinga, dan tidak banyak bicara, kemudian mengambil hikmah dari apa yang aku pelajari. Bahasa Sheila on Seven-nya: lihat, dengar, dan rasakan.

Bukankah hal-hal yang besar tercipta dari hal-hal yang kecil? jadi untuk mengembangkan pemikiranku, aku selalu belajar dari hal-hal kecil. Misalnya, aku belajar bersyukur dari anak-anak jalanan yang aku lihat. Atau menemani kekasih pergi ke sana kemari mencari bahan tugas kuliah yang dia butuhkan. Tak perlu meleng ke sana-sini, cukup melihatnya mondar-mandir dengan semangat dan keringat, maka aku belajar darinya tentang semangat yang besar dan tanggungjawab yang harus ku miliki dalam hidup. Simple, kan ?

Aku percaya, suatu saat nanti, hal-hal kecil yang kulakukan saat ini, akan menjadi sesuatu yang besar di kemudian hari. Dan aku yakin, tidak ada hal yang sia-sia jika kita mampu memaknai dengan baik apa yang sedang terjadi dalam kehidupan kita.
(Dee_Sakura)

Tuesday, May 11, 2010

Topik: Pernahkah Dijadikan Orang Ketiga?

Have Your Say Mei 2010

Satu untuk satu, itu adalah hubungan monogamus yang diakui oleh masyarakat. Para feminis menentang poligami, para perempuan hetero juga menolaknya. Bagaimana dengan kita, para lesbian? Pernahkah dijadikan orang ketiga karena sang pacar tidak bersedia memutuskan hubungan dengan pasangan resminya? Bagi ceritanya yuk bagaimana kamu melampau peristiwa itu.

Deadline: 31 Mei 2010

Kirimkan kepada: redaksi@sepocikopi.com

Menjadi orang ketiga bukan sebuah kebanggaan bagiku. Antara sakit dan perasaan bersalah selalu menghantuiku. Sakit karena aku tahu bahwa kata cinta darinya tak hanya untukku, atau saat aku mendengar dia telepon dengan pacarnya, aku harus diam di sampingnya dan tak bersuara demi menjaga perasaan pacarnya. Merasa bersalah karena tentu saja hatiku juga berkata bahwa ini tidak benar, bahwa ini juga melukai hati seseorang lain di sana . Tapi aku dan hatiku hanya bisa menangis dalam diam. Karena tidak tahan dengan keadaan, aku malah meyakinkan dia untuk kembali saja dengan pacarnya (walau tak mudah bagiku untuk melepasnya karena aku terlanjur jatuh cinta). Tapi dia menolak. Dia tetap ingin bersamaku. Sudah tidak ada kecocokan lagi dengan pacarnya, tapi dia juga tak bisa meninggalkan pacarnya begitu saja. Dia memintaku untuk bertahan dan memberinya waktu.

Pada akhirnya dia benar-benar memilih aku dan meninggalkan pacarnya. 11 juni 2010 besok, adalah hari jadi kami di tahun yang ke dua. Aku memiliki pertimbangan sendiri kenapa kuputuskan untuk bertahan saat itu. Karena aku yang menemukan dia, saat dia sedang terluka karena (mantan) pacarnya pernah berselingkuh dengan “lelaki”. Karena aku tidak ingin dia terluka lagi. Karena aku selalu ingin menjaganya dari orang-orang yang menyakitinya. Karena aku tahu, orang ketiga ini tidak selalu bersalah. Karena aku mencintainya!
(dee_sakura)

Tuesday, April 13, 2010

Topik: Kesuksesanku

Have Your Say April 2010

Lesbian terpinggirkan? Yaolooooh, demi langit bumi, hari gini masih ngomongin dimarginalkan ya? Sooo 90's banget sih. Enggak banget deh kalau bangga dianggap sebagai pecundang. Lesbian harus merebut eksistensi - bukan dengan menuntut bow, tapi mengambil kesuksesan yang bisa diraih. Kamu lesbian sukses? Kenapa enggak?! Ceritakan dong kesuksesan apa yang bikin kamu bangga! Bukan cuma bangga sebagai lesbian, tapi bangga dapat mengatakan dengan keras: "Lihat, pada akhirnya masyarakat membutuhkan gue yang notabene seorang lesbian!" Lesbian merasa terpinggirkan? Cuih cuih, ke laut aja lo!

Deadline: 30 April 2010

Kirimkan kepada redaksi@sepocikopi.com

Aku adalah seorang player snare drum dalam tim Marching Band di sebuah Universitas di Jawa Tengah. Pada awalnya teman-teman player dan coach memang mengucilkanku karena mereka tahu bahwa aku seorang lesbian. Tak jarang, coach menjadi tidak profesional dan sering menghukumku, bahkan mempermalukanku di depan teman-temanku yang lain. Aku bertahan, karena kecintaanku terhadap snare drum, musik, dan gerak. Aku bertahan karena tanggungjawabku sebagai player yang sudah dikontrak untuk sebuah perlombaan tingkat nasional di Jakarta.

Pada awalnya mereka memang memandangku sebelah mata. Bagi mereka keahlianku bermain drum tertutup karena aku yang lesbian. Seolah tak membutuhkan aku lagi, setelah perlombaan mereka mencampakkanku.

Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba coach menghubungiku dan memohonku untuk menjadi player snare drum lagi. Baru aku kuketahui bahwa tim Marching Band-ku kekurangan player yang sanggup bermain drum dengan baik. Hasilnya? Aku menjadi player snare drum dalam tim Marching Band tersebut selama hampir 4 tahun berturut-turut. Aku satu-satunya player yang memecahkan rekor dapat bertahan sampai 4 tahun lamanya (biasanya setiap player hanya dikontrak maksimal 1-2 tahun). Gelar asisten pelatih utama sempat dipercayakan coach kepadaku, sebuah jabatan yang bergengsi dalam ruang lingkup tim Marching Band. Meski pada akhirnya aku harus melepas jabatan itu karena aku juga harus memikirkan kuliahku.
(Dee_sakura)


Belajar di dunia medis awal mula bagai ironi bagi saya. Di masa kuliah saya dan kekasih (yang kini telah menjadi mantan) sering menjadi bisik-bisik sekitar teman karena kami sering terlihat bersama dan tak terpisahkan. Bisik-bisik itu menjadi bahan pembicaraan di kalangan kakak kelas juga. Bahkan ada beberapa teman lelaki yang berani bertaruh untuk bisa memcari salah satu diantara kami. Canda yang bernada mencemooh pun sering dialamatkan pada kami. Saya masih mengingat dengan jelas perihnya menerima hinaan itu. Hingga sampai masa magang di rumah sakit pun kami masih jadi bahan pembicaraan padahal kami telah putus dan saya telah memiliki pacar baru yang setia.

Kini, dengan usaha keras dan doa, saya berhasil menjadi orang pertama dari seluruh almamater saya yang melanjutkan program spesialisasi di universitas yang dikenal sebagai 'kiblat' kedokteran di Indonesia. Rasa sakit saya pun berangsur pulih. Saya bersyukur pada Tuhan, saya tidak pernah membalas hinaan dan cemoohan mereka dengan kata-kata.
(Gwen)

Bagiku kesuksesan adalah suatu hal positif dan membangun yang dapat kita bagi kepada orang lain dan menciptakan senyum kebahagiaan. Dulu aku hanya lesbian yang sehari-hari hanya mengeluhkan cinta, yang setiap saat bad mood karena bermasalah dengan partner, apalagi masalah yang dihadapi itu-itu saja. Aku senang akhirnya aku mendapat pekerjaan di bidang kemanusiaan, bukan di perusahaan komersil.

Aku bekerja membangun kembali rumah para korban tsunami di Aceh, memberikan training kepada masyarakat tentang pengembangan ekonomi, dan belajar langsung dari atasanku yang seorang Jerman. Jika kemarin aku merasa bukan siapa-siapa, sekarang dengan mengerjakan sesuatu dengan tujuan yang baik justru membuat hati semakin kaya dan tidak terpengaruh dengan apa yang ada dipikiran orang lain. Keberhasilan tim kerja dalam membangun masyarakat adalah kepuasaan tersendiri yang tak bisa digantikan.

Aku bangga karena telah mengerti berbagai masalah sosial dalam kaitannya dengan urusan hukum dan hak-hak perempuan. Aku tidak pernah berhenti belajar untuk dapat membantu masyarakat sekitar, itulah arti kesuksesan bagiku.
(Melda)